Kesenioran, Kesarjanaan dan Jabatan Kita dikutif dari tulisan “Mario Gagho”

Sedikitnya ada tiga hal yang kalau kita tidak bijak dalam menyikapinya akan menghambat laju perkembangan dan progresifitas kita, khususnya progresifitias keilmuan, skill dan kepribadian. Yaitu, kesenioran, gelar kesarjanaan, dan jabatan kita. Kesenioran dalam konteks mahasiswa di India bermakna lamanya tinggal di India dan “banyaknya” usia yang sudah dilewati. Dalam konteks birokrat berkaitan dengan hirarki senioritas dalam jabatan dan posisi yang dipegang. Sedang kesarjanaan dan jabatan tentu kita sudah maklumi maksudnya.

Ketiga unsur di atas sering membuat kita terlena dan terhanyut oleh perasaan superior dan unggul yang sebenarnya sering tak lebih dari sekedar fatamorgana yang artifisial. tidak riil. Dan sering menggiring kita ke dalam perasaan aneh yang sebenarnya tidak perlu dan malah menyesatkan: pola pikir kita jadi sering terbuai, terbebani dan dipenuhi dengan sikap gengsi, “martabat”, harga diri dan arogansi.

Senioritas

Konvensi atau definini tradisional kuno menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan senior adalah orang yang lebih tua dalam segi usia (dan dengan demikian dianggap banyak pengalaman dan lebih bijak). Definisi lama ini saya anggap sudah lapuk dan tak perlu membebani mindset otak kita. Benar, pengalaman yang banyak memang akan membawa kita pada sikap yang lebih bijak. Tetapi itu berlaku bagi “orang-orang yang mau belajar dari pengalaman itu”. Di sini, intinya yang dihargai dari seorang senior adalah “sikapnya yang bijak” bukan kesenioran itu sendiri. Dengan kata lain, siapapun yang bersikap bijaksana, kreatif dan memiliki visi ke depan lebih maju, baik itu yunior atau senior bahkan anak kecil sekalipun, patutlah mendapat respek yang sewajarnya di bidang di mana dia lebih mampu dari kita. Inilah esensi dari kesenioran.

Dengan kata lain, definisi kesenioran adalah mereka yang memiliki kemampuan (skill), visi ke depan, progresifitas dan sikap bijak (wisdom) yang lebih dari kita dalam bidang-bidang tertentu. Tanpa perlu memandang kepada usia atau jabatan yang dia pegang.

Sebaliknya, walaupun kita senior dalam berbagai bidang: jabatan, gelar kesarjanaan maupun usia, tapi kalau tidak memenuhi esensi di atas, maka berlapang-dadalah untuk memberi jalan pada yang lebih mampu, dan bersikaplah besar hati untuk belajar dari mereka pada bidang di mana mereka lebih mampu dari kita.

Gelar akademik atau kesarjanaan

Diploma I disebut dengan Ahli Pratama
Diploma II disebut dengan Ahli Muda (A.Ma)
Diploma III disebut dengan Ahli Madya (A.Md)
Sarjana atau Srata 1 (S1) diawali dengan huruf S (SE, SH, S.Kom, S.Si) dstnya
Pasca Sarjana – Srata 2 (S2) diawali dgn huruf M (MM, MH, M.Kom, M.Si,) dstnya
Pasca Sarjana – Srata 3 (S3) disebut dengan Doktor (DR atau Dr)

Ibarat kita naik gunung, kita telah berhasil mencapai “puncak”. Akan tetapi dalam konteks kesarjanaan, satu hal yang perlu diingat, bahwa dalam dunia keilmuan yang namanya “puncak” itu bukan hanya satu tapi banyak sekali. Dan kita hanya berhasil mencapai salah satu puncak gunung ilmu itu. Dan ini mesti kita sadari betul dengan penuh rasa rendah hati. Seorang yang mencapai gelar S2 atau S3 dibidang sastra Arab misalnya, maka dia adalah “pakar” di bidang sastra dan budaya Arab tapi dia tak lebih dari “anak TK” di bidang lain. Saya yang mengambil jurusan politik boleh dibilang “pakar” di bidang politik, tapi saya betul-betul “masih TK” di bidang sastra Arab, sastra Inggris apalagi ilmu komputer dan ekonomi, dll.

Dengan pola pikir semacam ini, maka kita tidak perlu pongah dan arogan karena kita telah lulus S2 (“master boy..!” kata beben) atau telah selesai Ph.D. Sebaliknya, dengan menyadari keterbatasan gelar2 kita itu, kita masih bisa terus belajar dengan rekan2 dari jurusan lain atas ilmu/skill yang tidak kita miliki. Saya ingin belajar mengaji lagi pada Ustadz Mukhlis Zamzami, MA (sastra Arab), saya masih ingin belajar tentang keislaman pada Zamhasari (BA.Islamic Studies), saya juga ingin belajar hardware komputer pada Juber Marbun alias Michael Stellar (BA. Computer) dan memperdalam skill bahasa Inggris saya pada Malik Sarumpaet (M.A.English). Dan belajar menulis artikel pada kolumnis dan redaktur situs Pesantren Virtual yaitu Rizqon Khamami.

Sumber ; http ://amroellahloebai.multiply.com